Lisensi, kuatir.. atau tidak kuatir? itulah pertanyaannya

Ceritanya begini, saya membuat framework untuk satu bahasa, kemudian merilisnya dengan lisensi, katakanlah lisensi ‘A’. Nah, untuk publisitas, tentu saja saya langsung promosi di forum terbesar Indonesia untuk menjangkau pengguna framework ini ke depan-nya untuk bertambah. Lumayan besar antusias-nya terbukti dari jumlah traffic yang saya analisa maupun jumlah yang men-download framework ini. Kemudian timbullah satu pertanyaan dari penghuninya, kenapa lisensi ‘A’?  ada yang meminta lisensi Chilik Framework diubah saja, dari lisensi ‘A’ yang strict menjadi yang lebih ‘fleksibel’.  bahkan ada yang nekat ‘memaksa’. Hehehe… ada ada saja nih ulah mereka, pikir saya dalam hati.

Mengenai lisensi, saya sudah lama mengetahuinya dan merupakan concern saya untuk sedapat mungkin, tidak merugikan pihak lain. Kesadaran ini tentu saja bukan datang tiba-tiba. Banyak artikel yang saya baca untuk ‘menjaga’ saya, jika saya terantuk dengan masalah lisensi. Namun menarik bercerita sedikit tentang lisensi, terutama yang saya bahas tentu saja tentang lisensi software.

Lisensi untuk piranti lunak sendiri berkaitan dengan hak cipta, yaitu hak atas kekayaan intelektual penemunya. Biasanya seorang penemu akan mendaftarkan paten, spesifik mengenai hal/teknik/metode/produk yang ditemukannya, dan mengenakan biaya dengan menerbitkan  lisensi bagi yang  menggunakan hasil temuannya. Hal ini menjamin penghargaan (dalam hal ini sejumlah uang) atas hasil temuannya dan mendorong orang lain menemukan solusi lain dari yang sudah ditemukan. Hal itu bagus bukan?

but, we live in imperfect world, and corrupted implementation. Sedemikian pintar-nya orang sampai dapat ‘mengeksploitasi’ paten ini menjadi senjata menakutkan. Alih-alih paten mendorong kemajuan (khan mengharuskan untuk mencari solusi lain untuk masalah yang sama), pada praktiknya beberapa perusahaan menggunakan-nya untuk menjegal perusahaan lain. Nah, disinilah kita menggunakan definisi proprietary untuk melabeli mereka yang memiliki hak ekslusif, yaitu paten. Satu perusahan mengajukan tuntutan karena satu produk terlalu populer (ingat Nokia vs Apple?) , atau satu perusahaan menjegal popularitas satu piranti lunak (SCO vs. Linux (IBM))  ataupun yang terbaru saat ini bersatu membentuk konsorsium (mengumpulkan modal membeli paten) mencegah kepemilikan suatu paten oleh satu perusahaan (lihat Novell dan Nostrell paten).  so, bisa dilihat, dunia proprietary adalah dunia dimana satu sama lain saling menuntut (hahaha, bener gak yah tarik benang merahnya :p).

Paten sendiri bisa berakhir, but jangan terlalu berharap untuk piranti lunak saat ini karena rentang waktunya yang masih panjang. Setiap paten yang ditemukan biasanya akan berakhir selama hidup penemunya plus 60 tahun. Paten akan ber-umur 95 tahun dari tahun dirilisnya/ dipublikasikan atau 120 tahun dari waktu pembuatannya.  Tariklah angka 100 tahun untuk setiap paten, maka bisa dikatakan setiap 1 abad kemudian kita akan menemukan suatu produk, paten-nya berakhir… dan masuk dalam Public Domain (Wilayah Publik). Ketika suatu produk masuk dalam Public Domain, maka royalti dan hak cipta tidak dapat dikenakan lagi sehingga satu karya menjadi bebas digunakan tanpa ijin sekalipun (misalnya, karya Sherlock Holmes-nya Conan Doyle atau karya Shakespeare).

Seseorang bisa saja menaruh karya-nya dalam Public Domain sebebas orang memberikan piranti lunaknya kepada orang lain. Artinya ‘memberikan cuma-cuma’ tanpa biaya. Namun hal ini tidak menjamin apapun, karena bisa saja si pemberi berubah pikiran dan mengenakan charge. Atau, ternyata piranti lunak-nya penuh bug atau membuat hardware-nya rusak. Hal ini tentu saja akan berakhir di pengadilan dengan tuntutan kepada si pemberi-nya. Hmm, tentu bukan hal ini khan yang di-inginkan? maka muncullah kata-kata yang harus disertakan, yang kurang lebih bunyinya seperti ini, ” …diterima APA ADANYA, DENGAN HARAPAN DAPAT BERGUNA TANPA MENYEDIAKAN JAMINAN, TERTULIS ATAUPUN TIDAK, ATAUPUN SESUAI DENGAN KEBUTUHAN BISNIS TERTENTU ATAU SPESIFIK. TIDAK ADA SATU ALASAN APAPUN DAPAT MEMBAWA PENULISNYA ATAUPUN PEMILIK HAK CIPTA DALAM SATU TUNTUTAN ATAU KLAIM.. “. Nah, inilah yang mendorong bermunculan lisensi seperti lisensi BSD-like, atau Apache atau MIT (perbedaannya hanya sedikit, misalnya harus mencantumkan nama pembuatnya, dll).

But, tentu saja dalam prakteknya, kita menemukan orang-orang oportunis yang memanfaatkan kebaikan seperti ini, dengan membuatnya menjadi  proprietary karena dia telah menaruh ‘resep’ spesial dan membuat fitur baru yang super (bombastis nih bahasanya :p). Tidak ada satupun lisensi yang saya singgung di-atas dapat melakukan tindakan apapun terhadap orang-orang tipe ini, selain satu lisensi yaitu GPL(General Public License). kenapa tidak bisa? karena hanya satu-satunya lisensi yang mengharuskan semua karya yang dirilis dalam lisensi GPL, selalu menggunakan lisensi: GPL.

Lalu, Chilik framework menggunakan lisensi apa? you know, lah 🙂

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-NoDerivs 3.0 Unported License.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: